21 October, 2016

Salah makan obat

SALAH MAKAN 'OBAT' : BAHAYA MENCOMOT AYAT KELUAR KONTEKS

Dua orang pria pergi ke dokter. Yang satu adalah penderita kanker stadium lanjut dan membutuhkan pertolongan agar bertahan hidup. Yang kedua sehat walafiat dan pergi ke dokter untuk periksa kesehatan rutin. Sang dokter adalah dokter yang sempurna dan ia menuliskan resep yang tepat bagi masing-masing pasien.

Namun, si apoteker tak sengaja menyebabkan kedua resep tertukar sehingga kedua pria ini menerima resep yang keliru. Si pria pengidap kanker menerima multivitamin dan dipesankan agar rutin berolahraga tiap hari, sementara si pria sehat diberikan rujukan untuk menjalani kemoterapi dosis tinggi. Akibatnya, bisa ditebak, si pria sakit meninggal dunia karena hanya mendapat multivitamin sementara si pria sehat mengalami penderitaan yang tak perlu.

Dalam cerita ini, dokter yang sempurna melambangkan Yesus. Yesus memahami setiap orang dengan sempurna dan selalu meresepkan obat yang tepat bagi setiap yang membutuhkan.

Bagi orang tak percaya (orang berdosa) yang penuh kebenaran-diri obatnya adalah 'terapi' Taurat.
Alkitab katakan,

8... hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan,
9yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya,
10bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat 11yang berdasarkan Injil ... (1 Timotius 1:8-11 TB)

Tujuan Taurat adalah menghancurkan kesombongan kita, membungkam kebenaran-diri kita dan menyingkapkan kebutuhan kita akan seorang Juruselamat.
Ujungnya adalah membawa kita kepada Yesus (Galatia 3:24) sehingga kita bisa menerima anugerah kebenaranNya (Roma 5:17).

Taurat bukanlah untuk orang kudus yang 'sehat', yang sudah dibebaskan dari 'kanker' dosa.

Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi (Kolose 2:23 TB) dan membuat kita kembali ke bawah 'kuk perhambaan' (Galatia 5:1).

Sementara 'obat' yang tepat bagi orang kudus Allah adalah dosis menyehatkan kasih karunia Allah dengan latihan iman harian kepada Dia yang sanggup dan berkuasa menjaga supaya jangan kita tersandung dan yang membawa kita dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya (Yudas 1:24 TB).

Dalam cerita di atas, apoteker yang bingung itu menggambarkan para pengajar yang secara keliru memberikan kasih karunia kepada orang yang belum percaya dan penuh kebenaran-diri; sebaliknya memberikan  Taurat kepada orang percaya.
Hasilnya, keduanya jadi semakin buruk keadaannya.

Orang tak percaya akan merasa baik-baik saja - all is well - padahal sedang menuju kebinasaan.
Sementara orang percaya akan berpikir bahwa keselamatannya tergantung pada kemampuannya sendiri.
Bukannya berjalan dalam kemerdekaan yang Yesus bawa, ia malah terus tertuduh, merasa selalu kurang karena kegagalannya mencapai standar Yesus. Singkatnya, menderita.

Alkitab boleh dianggap sebagai gudang penyimpanan obat yang lengkap.
Seluruh Alkitab 'bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran' (2 Timotius 3:16 TB).
Tapi pengajar yang bingung membuat 'obat'nya tertukar tanpa sengaja, tanpa ada maksud jahat.

Saya contohkan 3 pasal dari surat Petrus yang kedua.

Di pasal 1 Petrus membicarakan pengampunan, kasih karunia dan kuasa yang asalnya dari Allah.

Di pasal 2 Petrus mengingatkan gereja mengenai nabi palsu dan guru palsu yang ada 'di antara kamu' (ayat 1).
Seperti apa orang-orang ini? Bagaimana jemaat mengenali mereka?
Kata Petrus mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Bileam (ayat 15), hamba kebinasaan (ayat 19). Mereka sudah berkenalan dengan Jalan Kebenaran tapi membalikkan badannya (ayat 21) dan berada di bawah penghukuman (ayat 3).
Petrus jelas-jelas membedakan orang jahat ini dari orang saleh yang diselamatkan Tuhan dari pencobaan (ayat 9).

Di pasal 3 Petrus kembali membahas mengenai orang kudus dengan mengatakan 'Saudara-saudaraku yang terkasih' hingga 4x.

Jika pasal 2 penuh dengan kemarahan terhadap penyusupan orang jahat dalam posisi pemimpin gereja, pasal 3 berisi ajakan bernada kebapakan kepada para orang kudus.

BAHAYANYA DIMANA?
Masalah muncul saat 'apoteker' (yakni para pengajar, guru, bloggers) bingung membedakan 'saudara-saudaraku yang terkasih' dari pasal 3 dengan 'hamba kebinasaan' dari pasal 2.
Kata-kata keras dan menghakimi yang harusnya untuk orang jahat disampaikan kepada orang yang Yesus sebut sebagai 'orang benarKu'.
Bukannya diingatkan mengenai bahaya mendengarkan guru dan pengajar palsu; orang percaya malah diperlakukan seolah mereka yang 'palsu'.

Bukannya bersyukur pada Yesus yang telah melayakkan mereka, banyak orang Kristen pulang ke rumah dengan kondisi lebih buruk ketimbang saat mereka datang.

Seperti Petrus, Yudas juga dengan jelas menarik garis batas antara 'saudara-saudaraku yang terkasih' dengan  'orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus' (Yudas 1:4 TB).

Lagi-lagi, di tangan pengajar yang bingung, peringatan Yudas kepada para orang kudus dipelintir menjadi doktrin usaha manusia.
Punch-line pengkhotbah 'bingung' memang memakai kata-kata Yudas tapi dengan pelintiran :
"Saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus supaya kamu jangan berakhir seperti orang fasik".

Lho?

Pesan Yudas adalah "Celakalah mereka" (ayat 11), bukan "Celakalah kamu".
Ucapan Yudas adalah bagi orang fasik, bukan bagi orang percaya yang sudah dibenarkan oleh Yesus.

Punch-line surat Yudas adalah jaminan paling jelas yang bisa dimiliki seorang percaya, bahwa dirinya dibenarkan, dikuduskan dan dijaga oleh Yesus :

24Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,
25Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.
(Yudas 1:24-25 TB)

[Paul Ellis : Whose Medicine are You Taking? The Danger of Taking Scripture Out of Context; 4 February 2010]

http://escapetoreality.org/2010/02/04/whose-medicine-are-you-taking/