29 July, 2015

BISAKAH GARAM KEHILANGAN RASA ASINNYA?

BISAKAH GARAM KEHILANGAN RASA ASINNYA?
Matius 5:13
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Kita adalah ciptaan yang unik. Kita ada di dalam Kristus, tapi pada saat yang sama kita dipanggil untuk membarui pikiran kita.
Karena seperti Adam, hampir selalu, kita lebih mudah memandang Allah sebagai hakim ketimbang sebagai juruselamat kita.
Karenanya, saat membaca ayat di atas, di pikiran kita langsung timbul pertanyaan, "Apa yang terjadi padaku jika aku kehilangan keasinanku?".
Injil Matius adalah injil tentang identitas, yang ditulis untuk kelompok Kristen Yahudi yang tinggal di sekitar Galilea.
Apa yang Matius sedang sampaikan?
Apakah jika kehilangan rasa asin = kehilangan keselamatan anda?
Selanjutnya Matius berkata,
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
(Matius 5:14-16)
Matius sebenarnya sedang berkata, "Kamu adalah garam dunia, tapi karena kamu tak mengerti siapa dirimu, kamu belum berfungsi dengan efektif sebagai garam".
Orang yang tidak tahu bahwa dirinya adalah 'garam' sama dengan orang menaruh pelita/lampu di bawah gantang (semacam mangkok). Mereka tidak hidup sesuai dengan potensi mereka.
Kehilangan keasinan TAK ADA HUBUNGANNYA dengan kehilangan keselamatan.
Menjadi garam adalah tentang betapa mulianya keselamatan yang kita terima dan bagaimana kita menyatakan keselamatan kita itu di dunia ini.
Bagi Tuhan segala kemuliaan.
[Simon Yap : Can Salt Lose Its Saltiness; 12 January 2015]